Pertama, ketika desakan Jepang semakin kuat dan mendekati pangkalannya di Filipina, beliau segera memindahkan pasukannya ke Australia. Lebih baik mundur selangkah daripada bertahan sia-sia mengingat kekuatan Amerika lumpuh setelah Pearl Harbour sukses dihajar Jepang. Dengan ucapannya yang terkenal ‘I Shall Return’, MacArthur mulai menyusun strategi untuk kembali meraih Filipina, bahkan hingga menaklukkan Jepang bila perlu. Pelajaran yang dapat diambil adalah, berhijrahlah ketika kondisi terdesak, mundur selangkah untuk menyusun strategi maju lima langkah. Tak perlu malu untuk mundur karena memang kekuatan tidak memadai.
Kedua, ketika kekuatan mulai pulih kembali, rencana besar mulai disusun. Langkah pertama adalah menaklukkan pulau-pulau karang atau atol yang dikuasai Jepang di Pasifik. Mengapa bukan pulau besar sekalian? Karena kondisi alam berupa lautan memerlukan kekuatan besar untuk merebut sebuah pulau besar. terbukti kemudian pertempuran di Midway dan Kwajalein menjadi titik balik kemenangan Amerika di Pasifik. Pelajaran yang dapat diambil adalah, mulailah dari yang kecil, karena tidak memerlukan energi besar untuk melakukannya, namun tetap konsisten untuk meraihnya.
Ketiga, setelah menguasai pulau karang, langkah selanjutnya adalah menguasai kepulauan berukuran sedang seperti Kepulauan Solomon dan New Guinea, baru kemudian melangkah lebih jauh merengkuh Filipina. Semua berjalan secara terstruktur, dan langkah demi langkah, sabar dan konsisten. Itulah kunci kemenangan pasukan MacArthur di Pasifik atas Jepang. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa bila waktunya tiba, kita akan menjadi besar, asal langkah kita terstruktur, sabar, dan konsisten, mau mengikuti langkah demi langkah, tidak melangkahi begitu saja. Suatu saat kita akan mengalami lompatan seperti katak bila memang sudah tiba waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar